Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2019

3. Intuisi

Gambar
             “Gue urutan keberapa?”             Kalimat itu otomatis terlontar dari setiap orang yang bangun tidur di homestay. Menandakan urutan mandi yang sudah menjadi tradisi sedari Tasikmalaya. Siapa yang bangun lebih dulu, maka ia berhak atas kamar mandi sesuai urutannya. Aku termasuk kategori bangun pagi yang standar. Tidak terlalu cepat bangun dan tidak terlalu akhir. Pertengahan. Itu pun saat kebagian urutan, aku hanya sekedar sikat gigi dan cuci muka. Tidak sempat mandi. Alasannya adalah pagi ini aku mau jogging. Olahraga kecil sebelum pergi ke gunung. Padahal aku juga belum tahu cara apa dan bagaimana ke gunung nanti. Mempersiapkan seakan-akan sungguhan kesana. Lagipula cuacanya sangat mendukung untuk merenggangkan otot-otot yang berdebu akibat timbunan junk food saat di Jakarta.             Sekitar 30 men...

Ulang Tahun

Menjelang gelap kau mengetuk pintu rumah. Pulang telat dari biasanya. Sehari sebelum itu memang kau bilang akan lembur. Tapi aku merajuk,  "Pulanglah cepat. Besok kan hari istimewamu, Sayang. Yayayaya?" Sambil memasang mata kucing memelas. "Aku tidak janji. Masih banyak yg harus dikerjakan. Lepas isya baru sampai." Katamu mencoba membuat ku mengerti.  Kali ini, aku berencana memberimu kejutan. Aku tau kau sebenarnya tau. Tapi pura-pura tidak tau ya. Jangan menggagalkan rencanaku. Akhirnya, Kau sampai juga dirumah. Aku membukakan pintu. Anak-anak sudah terlelap. Kau tahu aku kesal. Lalu kau mendekapku. Dibalik dekapanmu, aku cemberut sembari menepuk-nepuk dadamu. Sambil mengoceh layaknya seorang ibu-ibu yang menyuruh anaknya segera pulang bermain. Ini sudah pukul sebelas malam. Tapi disitu kau memelukku erat. Memberikan pengertian-pengertian. Aku paham, tapi tidak untuk hari ini. Perlahan rasa kesalku mereda. Aku menyiapkan makan malam. Kau sudah memprediksi kalau a...

Judul Baru

Malam sudah cukup larut Tapi hati saya masih saja carut-marut  Tuan.. Bolehkah saya sedikit bercerita? Tentang luka yang mendewasakan kita Dari video di salah satu sosial media Disini hanya ada saya, bukan aku Karena aku, terlalu akrab untuk kita yang sudah terlanjur asing Ketidakmungkinan,  2 tahun bersamamu akan kalah dengan 2 minggu mengenalmu Saya beruntung kau tidak disini Setidaknya saya tenang,  Dari pikiran pahit yang harus mengendap Sebab hanya saya seorang yang terlihat sakit dan harus pergi Coba bayangkan jika kau memilih saya Pasti bukan hanya satu hati yang harus sembuh Kita pun pamit Mengakhiri obrolan ringan hingga baterai ponsel habis Sebelumya, saya memintamu mengajari untuk bersikap mengendalikan diri Untuk bisa mandiri Bertahan Berdiri di kaki sendiri Katamu, Saya yang harus belajar sendiri Saya mengerti Setiap orang adalah guru Dan setiap tempat adalah sekolah Kau adalah gurunya Dan perjal...