2. Perkenalan
Siang menjelang sore di sebuah pulau terpencil, aku meminta anak-anak mengajakku berkeliling. Kita menyusuri rumah-rumah, kebun, kotoran kambing, dan berujung di sekolah yang hampir menuju hutan. Anak-anak itu mungkin sudah terbiasa pergi dari satu kampung ke kampung lain, tapi karena disitu hanya aku satu-satunya yang menjadi orang dewasa ku urungkan niat untuk pergi lebih jauh. Dengan tampang sok akrab dan memasang wajar ramah memberanikan diri menyapa warga lokal. Meski hanya sekedar “ Permisi, Pak, Bu”. Aku pulang menuju homestay dengan rasa sedikit penasaran ada apa dibalik hutan sepi itu. Ngobrol hal ringan dengan teman satu kamar. Sedikit terlintas dipikiran tidak mungkin bisa dekat dengan pemuda tanpa nama di bibir kapal. Sekalipun dekat, caraku harus elegan. EO yang lainnya datang ke homestay. Memberi kabar kalau akan jalan-jalan ke pantai utara. Jalan yang dilewati persis seperti jalan yang aku lewati bersama anak-anak. Seandainya nyaliku lebih...