1. Awal Perjalanan
Juli
2019
Semua barang-barang sudah
disiapkan. Tas yang berisi pakaian, skin
care, sabun muka, alat mandi, kaos kaki, semuanya. Berharap fieldtrip ini akan baik-baik saja.
Semoga tidak menjadi hari yang melelahkan. Walaupun pastinya lelah, setidaknya
ada pelajaran yang bisa ku ingat. Kali ini, fieldtrip
keduaku. Setelah tiga bulan lalu mengunjungi Tasikmalaya, melihat kondisi
masyarakat adat Sunda Wiwitan kala itu, sungguh memprihatinkan. Ada sisi humanis dan sosial dalam hatiku yang
tersentuh. Mengetahui esensi perbedaan sebenarnya membuat kacamata ku semakin jernih.
Seharusnya kacamata perbedaan itu tetap dirawat, agar penglihatan tidak buram. Masih
terdapat diskriminasi yang dialami masyarakat adat yang masih memegang teguh
kepercayaan lokal. Terlebih jika mengurus administrasi atau mendapatkan hak-hak
sipil.
Sebelum pemerintah mengesahkan 6 agama resmi, mereka
masih sama-sama memperjuangan kemerdekaan Indonesia dan sudah memegang
kepercayaan lokal. Untuk mengurus administrasi seperti akta kelahiran, Kartu
Keluarga (KK), dan Buku Nikah hanya terdapat enam kolom agama. Mereka begitu
mencintai leluhur, sehingga sulit berpaling walau hanya sebatas kolom. Padahal
pemerintah mengakui adanya penghayat kepercayaan lokal. Dari hasil wawancara
yang aku dan kelompok teliti, pada akhir 2017 sudah ditambah satu kolom agama
yaitu “penghayat kepercayaan” walaupun belum merata di instansi pemerintahan.
Sejak saat itu aku semakin berusaha menguak kenyataan
yang tersembunyi, yang tidak semua orang lihat. Aku masih melihat foto-foto di
ponsel, mengenang abah dan ambu[1]
menyambut ku dan teman-teman seperti anak sendiri. Saat hari pertama aku
menginap, tubuhku demam. Maklum, penyesuaian suhu Jakarta dengan pedesaan. Ambu
yang menyelimutiku saat sedang pilek-pileknya. Nyaman, terasa seperti di rumah.
Ransel
sudah ter-packing dengan rapi. Aku
menyanjung diri sendiri karena laptop, charger, baju, dan peralatan make-up muat dalam satu tas. Tidak perlu
menggunakan carrier. Ini hanya empat
hari tiga malam yang aku harap akan menyenangkan. Fokus pada pelajaran hidup
yang semakin memuat pikiranku terasah.
Bergegas,
ku rebahkan badan ke kasur. Berharap esok akan jadi hari yang baik..
_____O_____
Masih
gelap, tapi semangat untuk keluar pulau kali ini tak tertahan. Aku meminta ayah
mengantar sampai kampus, padahal aku sudah tahu jawabannya. Tidak. Jujur, aku
rindu ayah yang selalu mengantar saat berangkat sekolah dan menjemput waktu
pulang pengajian. Kuputuskan memesan ojek online ditemani ibu. Ibu memang orang
yang luar biasa. Pernah aku berfikir, apa yang membuat ibu bisa tertarik dengan
ayah?
Sampai
di kampus, kulihat masih banyak yang belum datang. Sial, aku sudah terbiasa ontime. Berusaha akrab dengan peer-group sekelas. Walaupun sebenarnya,
aku tidak benar-benar merasa ada kedekatan emosional.
Beruntung.
Aku melihat seseorang dengan style anak
gunung. Kata PJ[2]
kelas dia EO[3]
kali ini. Rambut kriting gondrong, kulit gelap, kumis tipis dan tinggi. Namanya
Husaini Bayusegara, dengan perawakan khas petualang. Tidak ada rasa. Aku berani
sumpah.
Dia
terlihat pontang-panting saat bus kedua belum datang, bolak-balik,
mondar-mandir, sibuk. Aku masih seru dengan teman-teman. Sekitar pukul 07.00
bus mulai berangkat. Terlihat Kak Husain, panggilan akrab Uchen tidak sendiri.
Dia ditemani seorang yang lebih pendek darinya, kurus, coklat, style yang sama dengan kak Uchen. Fix
dia orangnya. Setidaknya tahu namanya sudah cukup.
Aku duduk di bagian depan
bus, mencoba akrab dengan Kak Uchen. Cerita kalau aku ingin naik gunung, tapi
masih terhambat dengan perizinan ibu. Bertanya, sudah berpetualang kemana. Dia
bilang “Engga kemana-mana”. Halah, bohong. Perawakan seperti itu mau menipu.
Dari sepatunya saja sudah kelihatan.
Sampai di pelabuhan, aku
senang. Ini pertama kalinya naik kapal. Menikmati petualangan ini dengan
semangat. Terlihat laki-laki tanpa nama, duduk di bibir kapal. Menyelonjorkan
kakinya yang dibalut sepatu sihir (sepatu pendaki). Dalam hati, “Kak, aku boleh
duduk sebelah kakak?” Meliriknya diam-diam, takut kalau dia hanya pura-pura
tidur.
Duduk bersila di ujung kapal
bagian depan merupakan pengalaman pertamaku. Melihat ombak benar-benar
terbelah. Aku teriak-teriak bak anak kecil yang baru saja mendapat mainan. Atau
mungkin seperti orang gila. Puas bisa melepaskan semua keluh kesahnya.
Setidaknya sebelum dikejar deadline
jurnal dan presentasi. Saat itu aku, Radika, Satya dan Hamdan berbincang
hangat.
“Lu liat ga sih lautnya kaya
mengkilat gitu.” Kataku antusias
“Iya, kaya kaca”
“Ehh… ada ikan terbang”
“Itu mah ikan sarden bukan?”
“Ikan sarden bisa terbang?”
“Kok ada belut dah, eh? Atau
uler?”
“Iya gua liat kok”
Kami masih asik dengan
teriakan kaget karena terhempas ombak, juga belut, ulat, kepiting, dan ikan
terbang yang diperbincangkan. Ditambah banyaknya sampah plastik. Melihat begitu
banyaknya sampah yang ada di laut membuatku sakit. Sesekali menggerutu di
perjalanan. Orang gila mana lagi yang membuang sampah ke laut.
Perjalanan kapal dari pelabuhan menuju dermaga
Pulau Tunda sekitar 1 jam 45 menit. Waktu yang sebentar. Apalagi untuk yang pertama
kali. Dari awal kuperhatikan bagaimana air laut yang keruh di pelabuhan menjadi
hijau, hijau tua, hijau lumut, hingga biru gelap. Dari kejauhan seperti ada yang
membatasi, tapi ketika dekat malah melebur menjadi satu. Ku alihkan pemikiran
buruk yang tidak ada listrik, sulit sinyal, air tawar, walaupun aku kesal
sendiri.
Siang itu, teman-teman
langsung istirahat. Aku yang sendirian melihat-lihat sekitar. Mudahnya
mengambil hati anak-anak pesisir membuat aku diminati bocah-bocah. Menggemaskan.
Memang, anak-anak bagiku selalu istimewa. Diajak mereka ke sebuah taman baca.
Diluar ekspektasi. Taman baca yang seharusnya menjadi tempat yang menyenangkan,
telihat seperti tempat yang menyeramkan. Aku senang saat kak Uchen menyuruh
anak-anak mengajakku ke taman baca.
“Sana main ke taman baca,
tapi berantakan”
“Ayo!!! Kita beresin
sekalian yuk!” Semangat menjawab sebelum tahu sampahnya terbuat dari buku.
Pantas saja kak Uchen tertawa jahat saat itu.
Saat sampai, kagetnya bukan
main. Ini taman atau gudang. Aku mulai membereskan, entah dari mana. Memilah-milih
buku-buku yang layak baca dan menyusunnya kembali. Beberapa warga lokal
menghampiri, bercerita kalau anak-anak kecil disini memang sulit untuk merawat
buku. Aku yang baru pendatang berkata, wajar masih anak-anak. Aku tidak
menyalahkan. Mereka di pulau terpencil. Kapal yang membawa mereka ke daratan
tidak tentu waktu, sekolah hanya sampai SMP. Keterbatasan akses membuat mereka
harus bertahan dalam keadaan. Secara tidak langsung, aku tercambuk. Ada beban
moral yang harus dipanggul sebagai seorang pendidik. Mengajarkan agar hati
lebih kuat untuk bersyukur.
Sekitar dua jam, buku-buku
yang bercecer belum juga beres. Dibantu oleh anak-anak dengan semangat, aku tak
mau kalah. Setelah semua buku rapi tersusun, tinggal disapu. Aku tidak tahu
meminjam sapu kemana, pun jika sudah disapu tidak tahu dibuang kemana
sampahnya.
“Agh! Aku capek!” dalam
hati. Nyapunya besok saja.
Istirahat, duduk di teras
rumah. Homestay yang dipakai saat itu
memiliki lapangan yang luas. Anak-anak mengajak bermain taplak. Awalnya tidak
tahu permainan apa itu, tapi akhirnya aku mengerti. Ketika kulepas sepatu dan
kaos kaki, mereka dengan nada tinggi bilang kakiku putih sekali. Aku hanya
tertawa. Mengalihkan agar kita langsung bermain. Tapi masih saja ada anak yang
mengungkit putihnya kaki. Hahaha
Komentar
Posting Komentar