Sudjiwo Tejo di diri Pak Pirus
Lelaki tua menghampiri WNG (Warung Nasi Gratis) dengan langkah perlahan. Dirinya menahan lapar, namun tak sanggup membayar. Ragu-ragu apakah warung ini benar-benar gratis atau tidak. Dia bilang kepada salah satu relawan,
"Boleh bawa bekal untuk makan siang? Soalnya rumah saya jauh"
Dengan senyum khasnya, relawan menerima tempat makan tersebut untuk diisi nasi.
Ya Allah... Tempat makannya...
"Mohon maaf, Pak. Ada tempat lain?" kata seorang relawan paruh baya yang biasa melayani di WNG.
"Engga ada. Cuma ini doang"
WNG fokus sebagai warung yang makan di tempat, bukan untuk dibawa pulang, sehingga tidak menyediakan styrofoam, kertas nasi atau kotak makan.
Beberapa orang yang sudah biasa makan disini berinisiatif membawa tempat makan sendiri, tak terkecuali dengan Pak Pirus. Sosok yang datang dengan bermodalkan rantang kosong yang sudah berkarat untuk diisi bekal makan siang.
Relawan itu tertarik ingin mengulik lebih dalam keseharian si Bapak. Ditemaninya dan diajak bercerita tentang makna kehidupan.
Miris, istri terkasihnya sudah meninggal lama, sekitar tahun 1995 dan tidak memiliki anak. Perihal pekerjaan, beliau sebagai buruh bangunan yang tidak menentu. Terlihat dari kulitnya yang hitam, badan kurus berurat, dan tatapannya yang sayu.
Beliau tinggal di Setiabudi, Jakarta. Saat ditanya "Bapak naik apa kesini?"
Dengan bangga beliau menjawab, "Jalan kaki dong!"
Entah harus salut atau tak percaya. Namun itulah kalimat yang dia jelaskan.
Lagi-lagi, ada filosofi hidup yang membuat kami tersentuh. Jika tidak ada kerja bangunan yang terpenting bisa makan setiap hari. Apalagi kita adalah manusia yang Allah angkat derajatnya dibanding makhluk lain.
"Binatang aja bisa makan. Apalagi kita yang memiliki pikiran dan keimanan. Gausah khawatir yang penting mau jalan, mau usaha."
Deg!
Kalimat itu pernah ku dengar dari seorang budayawan, Sudjiwo Tejo. Ternyata, ada makna hidup yang telah Pak Pirus berikan. Perihal nikmat dan rejeki.
"Khawatir besok kamu tak bisa makan saja itu sudah menghina Tuhan.”
—Sudjiwo Tejo
Komentar
Posting Komentar