Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Ikhlas

Gambar
 Kau pergi, saat aku sedang kencang-kencangnya berlari

Ra Ri Ru

Ri iri Ra mara Ru gerutu Re rese Kataku yang tak jelas Dan alis mengerut karena re rewel Jari-jariku yang ingin ri beri Sebuah kabar dan ri stori Karena dirimu Membuatku iri pada temanmu Jari-jari mereka mendapat  cerita hari hatimu 28 Oktober 2021 19.32

Masihkah

Masihkah kau berdiri ditempat dulu kita berpijak? Masihkah kau merawat rasa saat kita tak bersua? Masihkah kau mengeja kita seperti dulu bersama? Masihkah kau menetap di rumah yang sama? Masihkah ada aku? Masihkah ada kita? Aku lupa, kita tak lagi ada 20 Okt 2021 22.55 WIB

Negara Utopia

Namanya Muhammad Ali. Lahir di Afghanistan, usianya memasuki tahun ke 30. Dia seorang imigran karena negaranya dilanda pilu. Indonesia menjadi tempat tinggalnya sekarang. Sudah 7 tahun di Indonesia sejak 2013. Saat usianya memasuki 23 tahun, bukan hal yang mudah untuknya keluar dari hiruk-pikuk serangan senjata.  Di jalanan, di pertokoan, di rumah sakit, di sekolah, bahkan di tempat yang kita anggap sebagai tempat ternyaman (rumah) tak luput dari serangan.  Ali hanyalah satu orang dari 14.000 pengungsi di Indonesia. Dia dan kawannya memiliki izin tinggal namun tidak memiliki izin bekerja. Kawannya banyak yang mengakhiri hidup, sekitar 20 orang. Memutuskan bunuh diri karena tak kuat menanggung beban hidup dan terluntang-lantung di negeri orang katanya.  PBB membantu imigran untuk pindah ke negara-negara yang terbilang 'aman'. Namun hanya setengahnya yang mendapat bantuan. Satu kamar kost ditinggali 2 orang dan setiap bulannya mendapat 1.3 juta sebagai uang makan.  A...

Sebuah Keberlanjutan

Udara di desa kini mendadak memanas Peralihan musim belum juga bisa ditanyai dengan pasti Guguran daun-daun bambu mengisyaratkan kehati-hatian Aliran air sungai kini deras Setiap waktu terdengar menembus asap-asap dari jelaga Aku masih mengeja rindu-rindu kita, Manisku Setiap bagian mata dan jiwaku bergerak mencoba menembus segala dokumentasi kita Foto-foto kita, tulisan-tulisan kita, hingga ulah-ulah kita Setiap individu adalah unik, seperti katamu kala itu Dan kau, seolah perusuh Tiba-tiba masuk dan memporak-porandakan segala apa yang ada di hatiku juga jiwaku Ako pontang panting membereskannya lagi Tapi apa yang terjadi Bahkan setiap robekan kertas yang tercecer masih menguapkan aroma khasmu dan mengingatkanku tentang senyumanmu Akhirnya aku diamkan segala apa yang ada padamu, padaku Ulahmu yang tak kenal waktu Tajam pikiranmu yang tak menghilang dari tulisanku Aromamu yang memabukkan dan mendobrak penciumanku Hingga akhirnya kuukir segala tentangmu di jiwaku   Ayah Bara,  ...

Sudjiwo Tejo di diri Pak Pirus

Lelaki tua menghampiri WNG (Warung Nasi Gratis) dengan langkah perlahan. Dirinya menahan lapar, namun tak sanggup membayar. Ragu-ragu apakah warung ini benar-benar gratis atau tidak. Dia bilang kepada salah satu relawan,  "Boleh bawa bekal untuk makan siang? Soalnya rumah saya jauh" Dengan senyum khasnya, relawan menerima tempat makan tersebut untuk diisi nasi.  Ya Allah... Tempat makannya... "Mohon maaf, Pak. Ada tempat lain?"   kata seorang relawan paruh baya yang biasa melayani di WNG.  "Engga ada. Cuma ini doang" WNG fokus sebagai warung yang makan di tempat, bukan untuk dibawa pulang, sehingga tidak menyediakan styrofoam, kertas nasi atau kotak makan.  Beberapa orang yang sudah biasa makan disini berinisiatif membawa tempat makan sendiri, tak terkecuali dengan Pak Pirus. Sosok yang datang dengan bermodalkan rantang kosong yang sudah berkarat untuk diisi bekal makan siang.  Relawan itu tertarik ingin mengulik lebih dalam keseharian si Bapak. Ditemaniny...

Puisi Balasan dari Perempuan Pejalan Ibukota

Gambar
Tak kusangka aku akan tiba juga Tidak di kotaku atau di kotamu Disini, di sisi kota yang lain Kau mengizinkanku untuk singgah Aku berjalan seorang diri Menyusuri kerumunan Terluntang-lantung di kota orang Sampai bertemu denganmu Aku penghuni baru yang tak tahu diri Mengikuti segala rutinitas kesibukan Mengobrak-abrik tempat istirahatmu Membaca coretan-coretanmu Menculik dua buku kesukaanmu Mengacak-acak memorimu tentang kembang gula kesukaan bapak Sampai menanam kenangan bersama 'Bara' Aku cukup lancang, bukan? Masuk dan berdiam di isi kepalamu Seperti anak kecil yang tak ingin berhenti bermain Merengek-rengek jika dipaksa keluar Tapi aku menyukainya Menyelami isi kepalamu yang liar Berenang di setiap sudut pandangmu Dan setelah itu Setelah apa yang sudah ku perbuat, aku pamit Berjalan lagi, menyusuri tempat-tempat lainnya, menjauh Tapi cukup, Jangan lagi, Aku butuh tempat menetap

Virus Kebaikan

Kebaikan menular, entah dengan orang yang sama ataupun berbeda. Kali ini dari seorang paruh baya di daerah Pasar Rebo, Jakarta Timur. Saya dan team melakukan aksi rutinan komunitas relawan. Salah satu programnya memberikan makanan gratis di jalanan. Dan  salah satu penerima manfaatnya seorang penjual kalender. Entah apa yang mengetarkan hati penjual kalender itu saat team kami membagikan sekotak nasi dan air minum, saya diberikan kalender tahun baru 2021. Saat saya tanya berapa harganya, dia bilang, "Sudah dibayar dari nasi kotak yang kakak berikan." Deg! Saat itu juga saya termenung. Bisa-bisanya. Balasan kebaikan itu langsung diberikan. Secara langsung atau tidak, sengaja atau tidak, penjual kalender itu menggetarkan hati saya. Kebaikan ternyata virus. Bisa ditularkan melalui orang yang sama ataupun tidak. Itu yang sampai saat ini saya yakini. Doa-doa, harapan-harapan, semangat yang diberikan kepada saya dan team menjadi kekuatan untuk terus berjalan di jalan ini. Jika mung...

Pertama di WNG (Warung Nasi Gratis)

Ini hari pertama saya melayani makan pekerja-pekerja pinggiran ibukota. Tukang parkir, pengamen, penyapu jalanan, tukang ojek, atau bahkan anak-anak jalanan. Entah dari latar belakang manapun, bukankah hakikat kita semua sama? Jika kalian tanya bagaimana rasanya menjadi salah satu dari bagian kebaikan ini. Kalian bertanya pada orang yang salah. Saya akan jelaskan kalau rasa yang saya dapatkan abstrak. Tak bisa dijelaskan.  Senyum saya tipis.  Tunggu, bukan karena tak murah senyum. Tapi menahan rasa puas melihat uang-uang di kantong mereka tersimpan dengan baik.  Tunggu lagi, bukan karena mereka serakah atau pelit. Tapi untuk membawa pulang nafkah tambahan.  "Lumayan makan siang gratis, uangnya bisa buat jajan anak." Begitu kata seorang ayah yang tergambar dari sorot matanya.  Kalian tahu? Pasti kalian tahu. Lebih tahu dari saya. Setiap kebaikan yang kalian sebarkan kepada semesta, setiap itu pula langkah kalian beriringan dengan narasi kebaikan. Rumah Putih,...