Negara Utopia

Namanya Muhammad Ali.

Lahir di Afghanistan, usianya memasuki tahun ke 30. Dia seorang imigran karena negaranya dilanda pilu. Indonesia menjadi tempat tinggalnya sekarang. Sudah 7 tahun di Indonesia sejak 2013. Saat usianya memasuki 23 tahun, bukan hal yang mudah untuknya keluar dari hiruk-pikuk serangan senjata. 

Di jalanan, di pertokoan, di rumah sakit, di sekolah, bahkan di tempat yang kita anggap sebagai tempat ternyaman (rumah) tak luput dari serangan. 

Ali hanyalah satu orang dari 14.000 pengungsi di Indonesia. Dia dan kawannya memiliki izin tinggal namun tidak memiliki izin bekerja. Kawannya banyak yang mengakhiri hidup, sekitar 20 orang. Memutuskan bunuh diri karena tak kuat menanggung beban hidup dan terluntang-lantung di negeri orang katanya. 

PBB membantu imigran untuk pindah ke negara-negara yang terbilang 'aman'. Namun hanya setengahnya yang mendapat bantuan. Satu kamar kost ditinggali 2 orang dan setiap bulannya mendapat 1.3 juta sebagai uang makan. 

Ali pernah menghadap ke kantor PBB, melakukan aksi demo, tidur di bawah terpal untuk memperjuangkan dirinya agar mendapat bantuan dengan layak.

Namun lagi-lagi, PBB hanya bisa menampung kurang dari 7000 imigran. Bukan tanpa sebab, karena tidak ada budget untuk membantu lagi katanya.

Karena tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki biaya, apalagi tidak memiliki tempat tinggal menetap. Ali datang ke WNG (Warung Nasi Gratis) dengan keadaan lesu. Dia datang karena diberi tahu dari teman Indonesia-nya, kalau ada warung makan gratis di daerah Depok. Apalagi mengingat latar belakangnya dan tidak memiliki pekerjaan. 

Pilu memang, tapi itu yang harus dia telan bulat-bulat.

Aku teringat dengan sebuah negeri yang damai dan tentram, subur dan makmur, daratannya hijau, langitnya cerah membiru, sumber daya alam melimpah, memiliki gelar masyarakat multikultural, pemimpinnya adil, rakyatnya sejahtera.

Semoga, 

Bukan hanya utopia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesona

2. Perkenalan

Hakikat tertinggi dalam cinta adalah menjaga