Hakikat tertinggi dalam cinta adalah menjaga
Beberapa waktu yang lalu sekitar tahun 2017-2018 naik gunung menjadi sebuah tren yang diangkat kembali, julukan pendaki ala-ala anak senja menjadi hal yang sering diperbincangkan. Dunia pendakian juga mulai diangkat lagi oleh public figure seperti Fiersa Besari. Bahkan segelintir orang menyebut para pendaki itu dengan sebutan pecinta alam. Saat itu saya termakan julukan si anak pecinta alam harus menjadi pendaki. Padahal esensi dari cinta alam adalah mengerti apa yang alam dan manusia butuhkan. Alam juga makhluk hidup dan tempat menghidupkan makhluk Tuhan.
Sebagai pembelajar yang amatiran, saya mulai mencari beberapa akun yang erat kaitannya dengan isu lingkungan seperti gaya hidup zero waste, sustainability living, bahkan NGO yang fokus di konservasi lingkungan seperti WWF. Bulan Agustus 2022 WWF X YPBB membuka kesempataan untuk menjadi volunteer youth activist. Kegiatan berlangsung selama kurang lebih 4 bulan hingga Desember 2022. Dalam kegiatan tersebut, saya banyak belajar dan berfikir lebih panjang tentang hasil konsumsi. Mulai dari makanan, perlengkapan mandi, bahkan jajan. Saat kecil kita sudah tidak asing dengan anjuran membuang sampah ditempatnya, ternyata itu saja tidak cukup. Saya dipaparkan sebuah tragedi di Kota Cimahi, Jawa Barat. Di daerah Leuwigajah, 21 Februari tahun 2005 terjadi ledakan dari sampah akibat gas metana. Bahkan sampai merenggut nyawa 150 orang dan menghapus 2 desa dari peta. Maka dari itu setiap tanggal 21 februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional.
Selama menjadi volunteer di youth activist dari WWF x YPBB kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan satu mentor. Bagaimana mengaudit sampah dengan baik dan bijak. Pemilahan sampah organik dan nonorganik bukan hanya sebatas pengetahuan saat sekolah dasar lagi. Di dalam kelompok youth activist kami melakukan perekapan selama satu minggu, monitoring setiap bulan, menulis dan berbagi. Mungkin sebagian besar dari kita sadar dampak yang ditimbulkan apabila sampah bercampur, tapi itu saja tidak cukup. Perlu ada kontribusi kita.
Kalau kita liat kejadian di TPA Leuwigajah bisa karena kontribusi sampah yang kita buang begitu saja. Gaya hidup zero waste bisa sebagai salah satu bentuk gaya hidup untuk mengurangi dampak buruk lingkungan. Kita sadar kita tidak punya mesin pengolahan limbah seperti di perusahaan besar,tapi bukan berarti tidak melakukan apapun. Fokus utama penggiat zero waste selain sesuai kebutuhan juga berupaya melihat yang ada, tanpa mengada-ada. Peran zero waste itu sadar, berkontribusi, juga memikirkan kembali kemana sampah/limbah kita setelah lepas dari kita.
Sebelum kita memutuskan menggunakan kemasan plastik sebenarnya masih banyak yang bisa kita lakukan. Kita pikirkan dulu apa yang mau kita gunakan, bertanya pada diri sendiri apakah benar-benar butuh atau keinginan belaka, kita singkirkan dulu single use, konsumsi kita direduksi dulu, menggunakan kembali apa yang bisa digunakan, beli yang lokal, pakai sampai habis. Jadi ada banyak cara untuk memulai merespon masalah lingkungan. Dengan adanya forum diskusi dari youth activist kita bisa memantik sebuah diskusi agar tetap terhubung akan mencintai bumi.
Mengurangi dan bijak dalam mengonsumsi kemasan plastik bukanlah satu-satunya cara untuk menjaga alam tetap aman, bukan sebuah ajang untuk pamer ‘seberapa anak bumi-nya lo’ tapi dengan satu kontribusi yang fokus menjadi dampak yang serius. Untuk diri kita dan keberlangsungan hidup kedepan.

Komentar
Posting Komentar