2. Perkenalan
Siang menjelang sore di
sebuah pulau terpencil, aku meminta anak-anak mengajakku berkeliling. Kita
menyusuri rumah-rumah, kebun, kotoran kambing, dan berujung di sekolah yang hampir
menuju hutan. Anak-anak itu mungkin sudah terbiasa pergi dari satu kampung ke
kampung lain, tapi karena disitu hanya aku satu-satunya yang menjadi orang
dewasa ku urungkan niat untuk pergi lebih jauh. Dengan tampang sok akrab dan
memasang wajar ramah memberanikan diri menyapa warga lokal. Meski hanya sekedar
“Permisi, Pak, Bu”.
Aku pulang menuju homestay dengan rasa sedikit penasaran
ada apa dibalik hutan sepi itu. Ngobrol hal ringan dengan teman satu kamar.
Sedikit terlintas dipikiran tidak mungkin bisa dekat dengan pemuda tanpa nama
di bibir kapal. Sekalipun dekat, caraku harus elegan.
EO yang lainnya datang ke homestay. Memberi kabar kalau akan
jalan-jalan ke pantai utara. Jalan yang dilewati persis seperti jalan yang aku
lewati bersama anak-anak. Seandainya nyaliku lebih besar, mungkin aku bisa
lebih dulu pergi kesana. Menikmati desiran ombak menghempas batu karang.
Sendirian. Aku berada di barisan paling depan. Maklum, masih sangat bersemangat berpetualang. Tidak sedikitpun merasa lelah. Fisik mungkin saja lelah, tapi hati meminta kaki untuk terus berjalan lebih jauh, dan meminta mata untuk menatap lebih lama. Jika hati sudah manja seperti itu, siapa yang bisa mengelak? Berjalan menyusuri hutan entah berantah bersama EO yang menggunakan topi,
siapa namanya aku tidak peduli. Tidak sepeduli dengan EO yang pulas di kapal. Ada binatang besar bersisik mirip
komodo, tapi bukan komodo. Besarnya seperti kaki orang dewasa. Mungkin lebih.
“Bang! Itu ada komodo.”
“Itu bukan komodo, biawak”
“Gede bat dah. Ga ngeri apa?”
“Biawak disini mah takut sama
orang”
Ilalang tinggi menjulang,
namun ada beberapa tempat yang sudah terbakar. Aku bertanya sengaja dibakar
untuk dijadikan lahan atau secara alami. Kata EO bertopi itu, bulan-bulan ini
memang sedang terik matahari. Jadi mudah sekali daun-daun kering itu terbakar dan api merambat cukup cepat. Lagipula mana
mungkin ada orang yang membuka lahan di tempat seperti itu jika bukan untuk dibangun
rumah. Tidak ada perkebunan selain kelapa, itu juga hanya ada satu petani
kelapa. Tanah yang ditempati tidak subur untuk berkebun. Jadi memang
penghasilan utamanya sebagai nelayan.
Suara ombak semakin
terdengar. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan betapa bapernya sore itu. Aku? Tentu saja meleleh digombalin ombak. Aku beranikan
diri menaiki dermaga galau yang sudah reyot. Diam, rasakan angin, duduk di
pinggir dermaga. Terlihat seseorang dengan celana pendek sambil memegang kamera canon
sedang hunting foto. Lelaki yang sama
yang pulas di kapal. Pesonanya masih kalah dengan lautan. Aku hanya
melihatnya sekilas lalu ku alihkan lagi dengan menatap garis langit. Waktu sudah
cukup sore untuk berada di pantai. Air laut mulai pasang. Kalau aku bisa
merengek minta tinggal sebentar lagi, pasti akan ku lakukan. Hanya saja memang
banyak pertimbangan. Pertama, kalau
lebih sore pasti sampai homestay
lebih malam. Kedua, jika aku merengek
pasti membuat semua orang kesal. Ketiga, aku
belum mandi. Pertimbangannya jika aku tetap berada di pantai. Pertama, aku bisa melihat matahari
terbenam. Kedua, aku semakin ada
waktu memperhatikan lelaki di bibir kapal kala itu. Ketiga, merepotkan banyak orang.
Perjalanan pulang dari pantai utara,
aku sengaja berjalan lambat dari yang lainnya. Memang untuk menikmati langkah.
Sambil memotret sekitar lewat handphone.
Tidak sengaja aku melihat kebelakang, berharap ada lelaki di bibir kapal. Benar
saja, ada dia. Ketika aku mengambil gambar sebuah bunga dan sedikit menengok,
lelaki itu melihatku. Entah kenapa aku malu. Heran, sebenarnya apa yang membuatku malu. Salah tingkah. Foto
mah foto saja, untuk apa malu. Kenapa
aku harus lari dan menutup wajah? Bodoh. Aku berlari lagi dan mengambil foto
lagi. Lebih cepat agar langkahku tidak dibalap lelaki itu. Padahal mengambil
foto membutuhkan ketenangan dan fokus, tapi aku malah tergesa-gesa. Alhasil,
tidak sebaik yang sebelumnya.
Malam itu, ketika semua
sudah berkumpul di aula untuk pembukaan, kami dihidangkan makan malam. Menunya
sawi dan ikan. Sejujurnya, aku kurang suka ikan. Banyak duri dan repot jika
harus memakannya. Aku sudah membayangkan pasti menunya selalu ikan. Padahal
baru hari pertama, tapi aku sudah seperti itu. Aku tidak boleh mengeluh, pikirku. Buruk sekali jika harus mengeluh karena hal sepele seperti ini. Aku suka ikan, jika ada yang mau
menyuapi dan memilihkan durinya. Tapi tidak mungkin kan disituasi ini?
Setelah makan, mulai pembagian EO berdasarkan tema yang kelompok ambil. Aku dan teman-teman kelompok memilih tema pariwisata dengan judul ”Perubahan Sosial Ekonomi Akibat Perkembangan Wisata Alam di Pulau Tunda.” Pembagian EO sudah jelas.Malam itu semua EO diberi tahu namanya. Tapi hanya ada dua nama yang ku ingat. Kak Uchen, karena dia pemandu kelompokku. Dan pemuda celana pendek yang sudah ku incar namanya sedari pagi buta. Sejak saat itu aku tahu namanya. Sosok yang pulas di bibir kapal. Sosok yang membuat aku merasa konyol saat memfoto bunga. Sosok yang membuat aku lari entah karena apa. Sosok yang ku perhatikan lekat-lekat secara sembunyi-sembunyi. Namanya adalah Jimi. Sosok yang malam itu membuat tidurku lelap walau gerah tanpa kipas angin.
Setelah makan, mulai pembagian EO berdasarkan tema yang kelompok ambil. Aku dan teman-teman kelompok memilih tema pariwisata dengan judul ”Perubahan Sosial Ekonomi Akibat Perkembangan Wisata Alam di Pulau Tunda.” Pembagian EO sudah jelas.Malam itu semua EO diberi tahu namanya. Tapi hanya ada dua nama yang ku ingat. Kak Uchen, karena dia pemandu kelompokku. Dan pemuda celana pendek yang sudah ku incar namanya sedari pagi buta. Sejak saat itu aku tahu namanya. Sosok yang pulas di bibir kapal. Sosok yang membuat aku merasa konyol saat memfoto bunga. Sosok yang membuat aku lari entah karena apa. Sosok yang ku perhatikan lekat-lekat secara sembunyi-sembunyi. Namanya adalah Jimi. Sosok yang malam itu membuat tidurku lelap walau gerah tanpa kipas angin.
Komentar
Posting Komentar