Pilih-pilih

Hari ini saya berniat melakukan kebaikan. Saya awali pagi dengan rasa syukur dan berdoa. Semoga pergi hingga pulang dapat memberi manfaat. 

Seperti biasanya, saya menunggu Transjakarta untuk berangkat ke kampus. Transjakarta datang telat. Sudah 15 menit tak terlihat. Saya palingkan wajah ke arah JPO seorang ibu kerepotan turun dari anak tangga membawa barang yg cukup berat di tangan kanan dan kirinya. Terbesit ingin membantu, tapi saat yang bersamaan Transjakarta datang. Bimbang. Membantunya dan semakin telat berangkat atau membiarkannya tapi cepat ke kampus. Saya memilih meninggalkan sang ibu dan langsung naik Transjakarta. Berdoa lagi, semoga dapat kebaikan yang lain hari ini, yang tidak harus dihadapkan dengan urusan pribadi.

Turun dari Transjakarta, seorang anak penjual tisu menawarkan kepada saya. Pakaiannya kusut, wajahnya memelas, rambutnya pirang efek dari terik matahari. Saya langsung bilang "maaf ya" sambil mempercepat langkah ke kelas. Berdoa, semoga di kampus ada kebaikan yg tidak menyita waktu.

Sampai di kelas, dosen belum hadir. Teringat si ibu yang kerepotan tadi di JPO. Bagaimana jika itu terjadi pada ibu saya sendiri? Bagaimana kalau wajah memelas anak penjual tisu hadir karena rasa lapar dan haus? Tegakah?

Pulang kampus, saya mencari anak yg tadi menawarkan tisu. Tapi tak terlihat. Perjalanan ke rumah terus mencari kebaikan yang bisa saya kerjakan. Tapi tak satupun yang hadir. Saya terlalu pemilih hingga tak satupun kebaikan yg bisa saya kerjakan hari ini.

Andai tadi saya bisa menahan langkah, sebentar saja. 

Andai saya tidak memilih dan menyapu bersih semua kebaikan yg hadir. 

Pasti akan ada kebaikan yang dibawa pulang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesona

2. Perkenalan

Hakikat tertinggi dalam cinta adalah menjaga