Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Pura-pura Jatuh

Hari ini, sekitar pukul 06.24 Saya lihat dua orang berseragam coklat mengatur lalu lintas. Salah satunya memegang masker sekali pakai dibungkus plastik. Seperti baru dibeli.  Semua wajar sampai seorang itu membuka dan menurunkan tangan kanannya bersama sisa plastik yang seakan-akan jatuh.  Saya tidak langsung tegur. Takut. Butuh sekitar beberapa menit sampai akhirnya saya beranikan diri. Ada dialog dalam hati "Ayolah, jadilah ramah dan berani " "Yuk bisa yuk!" Teringat cerita seorang penggiat lingkungan yang ribut dengan bapak-bapak bermobil karena berani menegur membuang botol kemasan di jalan. Saya yakinkan diri, muka saya bukan tampang cari ribut. Kalau pun seorang itu marah-marah, yakin saja tidak ada hal lain yang lebih menakutkan daripada hanya menerima ocehannya. Sedikit gemetar, saya ambil sampahnya dan kembalikan. "Pak, ini sampahnya. Di situ ada tempat sampah" (sambil senyum menunjuk belakang halte sekitar 10 meter dari kita berdiri) "Oh iy...

Peralihan Rasa

Aku semakin muak pada diriku yang tak kunjung usai Menanti akhir kisah yang takkan tercerai-berai Aku yang baru memulai dengan harap kau menetap Menelan pilu hatimu yang semakin tak mantap Kau anggap kisah kita gurauan Salahku terlalu serius berangan-angan Termakan pikiran tak karuan Kala pertengahan jalan kau mengatakan Dengan dirinya ada jarak yang renggang Membutuhkan sedikit ruang penyegaran Menggunakan aku sebagai korban Bersama carut-marutnya revisi Ditambah hiruk pikuknya hati Meminta kisah kita disudahi Kau layaknya aktor pemain dramaturgi Menganggapku tersangka memutar balikan fakta Aku tidak akan datang jika tak kau beri ruang, Sayang Bisa saja dulu aku menghindar, tapi aku memaksa Bisa saja dulu kau menjaga jarak, tapi kau lanjutkan permainan Aku tempat singgah untuk beristirahat Sebelum kau menepi kembali pulang Pada Puan yang membuatmu terikat Harum kopi panas bercampur harum tubuhmu senja itu Yang dihidangkan untuk...

Relawan

Jelas mereka menutup hidung Karena hutan yang tak terlindung Ditambah asap yang kian pekat Dan sulit untuk melihat Jangan sampai telinga kita kian tersumbat Menutup diri Tidak peduli Terus semangat untuk para sahabat Dari kawan tak kasat mata Semoga selalu selamat Hingga pulang ke keluarga Saya persembahkan ini untuk pejuang langit biru Kalian tetap pahlawan meski tak seorang pun tahu

Maaf, Nak

Di sudut ruangan Dengan antusias menjawab pertanyaan Sekejab menjadi siksaan Akibat ku bagi perhatian Nak, Kala wajahmu cemberut Alismu mengerut Senyummu kecut Sampai ibu merasa tersudut Ibu hanya manusia biasa, Nak Kau memang tak lahir dari rahimku tapi ibu sudah menyelamimu Anakku bukan hanya satu Bukan hanya kamu yang harus dibantu Ibu mencoba lembut Hingga cukup terlarut Sampai terlalu pengecut Untuk maaf pun ciut Untuk anakku kelas 4 SD 3 September 2019

Opini Demokrasi

Gambar
Kebijakan yang dikeluarkan dalam memangku permasalahan sosial di masyarakat dikaji oleh seluruh elemen masyarakat. Dari yang sifatnya diskusi santai di ruang publik hingga diskusi yang lebih serius. Analisis kebijakan yang dikeluarkan selain memperjelas maksud dan tujuan kebijakan itu dibuat, juga memunculkan isu permasalahan baru. Seperti banyaknya pasal-pasal yang kontroversial, sehingga menimbulkan miskonsepsi dari berbagai sudut pandang akibat redaksi yang tidak jelas. Berbagai partisipasi masyarakat dalam berdemokrasi dapat dilihat dari banyaknya konten media sosial masyarakat menyuarakan aspirasi terkait kebijakan RUU KUHP. Dalam kebijakan yang dikeluarkan,   mencetuslah aksi massa yang dilakukan mahasiswa pada hari Selasa, 24 September 2019. Mahasiswa dari berbagai almamater berkumpul di gedung DPR memberikan tujuh desakan kepada DPR untuk; (1) menolak RKUHP, RUU pertambangan minerba, RUU pertahanan, RUU permasyarakatan, RUU ketenagakerjaan, mendesak pembatalan U...

3. Intuisi

Gambar
             “Gue urutan keberapa?”             Kalimat itu otomatis terlontar dari setiap orang yang bangun tidur di homestay. Menandakan urutan mandi yang sudah menjadi tradisi sedari Tasikmalaya. Siapa yang bangun lebih dulu, maka ia berhak atas kamar mandi sesuai urutannya. Aku termasuk kategori bangun pagi yang standar. Tidak terlalu cepat bangun dan tidak terlalu akhir. Pertengahan. Itu pun saat kebagian urutan, aku hanya sekedar sikat gigi dan cuci muka. Tidak sempat mandi. Alasannya adalah pagi ini aku mau jogging. Olahraga kecil sebelum pergi ke gunung. Padahal aku juga belum tahu cara apa dan bagaimana ke gunung nanti. Mempersiapkan seakan-akan sungguhan kesana. Lagipula cuacanya sangat mendukung untuk merenggangkan otot-otot yang berdebu akibat timbunan junk food saat di Jakarta.             Sekitar 30 men...

Ulang Tahun

Menjelang gelap kau mengetuk pintu rumah. Pulang telat dari biasanya. Sehari sebelum itu memang kau bilang akan lembur. Tapi aku merajuk,  "Pulanglah cepat. Besok kan hari istimewamu, Sayang. Yayayaya?" Sambil memasang mata kucing memelas. "Aku tidak janji. Masih banyak yg harus dikerjakan. Lepas isya baru sampai." Katamu mencoba membuat ku mengerti.  Kali ini, aku berencana memberimu kejutan. Aku tau kau sebenarnya tau. Tapi pura-pura tidak tau ya. Jangan menggagalkan rencanaku. Akhirnya, Kau sampai juga dirumah. Aku membukakan pintu. Anak-anak sudah terlelap. Kau tahu aku kesal. Lalu kau mendekapku. Dibalik dekapanmu, aku cemberut sembari menepuk-nepuk dadamu. Sambil mengoceh layaknya seorang ibu-ibu yang menyuruh anaknya segera pulang bermain. Ini sudah pukul sebelas malam. Tapi disitu kau memelukku erat. Memberikan pengertian-pengertian. Aku paham, tapi tidak untuk hari ini. Perlahan rasa kesalku mereda. Aku menyiapkan makan malam. Kau sudah memprediksi kalau a...

Judul Baru

Malam sudah cukup larut Tapi hati saya masih saja carut-marut  Tuan.. Bolehkah saya sedikit bercerita? Tentang luka yang mendewasakan kita Dari video di salah satu sosial media Disini hanya ada saya, bukan aku Karena aku, terlalu akrab untuk kita yang sudah terlanjur asing Ketidakmungkinan,  2 tahun bersamamu akan kalah dengan 2 minggu mengenalmu Saya beruntung kau tidak disini Setidaknya saya tenang,  Dari pikiran pahit yang harus mengendap Sebab hanya saya seorang yang terlihat sakit dan harus pergi Coba bayangkan jika kau memilih saya Pasti bukan hanya satu hati yang harus sembuh Kita pun pamit Mengakhiri obrolan ringan hingga baterai ponsel habis Sebelumya, saya memintamu mengajari untuk bersikap mengendalikan diri Untuk bisa mandiri Bertahan Berdiri di kaki sendiri Katamu, Saya yang harus belajar sendiri Saya mengerti Setiap orang adalah guru Dan setiap tempat adalah sekolah Kau adalah gurunya Dan perjal...

2. Perkenalan

Siang menjelang sore di sebuah pulau terpencil, aku meminta anak-anak mengajakku berkeliling. Kita menyusuri rumah-rumah, kebun, kotoran kambing, dan berujung di sekolah yang hampir menuju hutan. Anak-anak itu mungkin sudah terbiasa pergi dari satu kampung ke kampung lain, tapi karena disitu hanya aku satu-satunya yang menjadi orang dewasa ku urungkan niat untuk pergi lebih jauh. Dengan tampang sok akrab dan memasang wajar ramah memberanikan diri menyapa warga lokal. Meski hanya sekedar “ Permisi, Pak, Bu”.   Aku pulang menuju homestay dengan rasa sedikit penasaran ada apa dibalik hutan sepi itu. Ngobrol hal ringan dengan teman satu kamar. Sedikit terlintas dipikiran tidak mungkin bisa dekat dengan pemuda tanpa nama di bibir kapal. Sekalipun dekat, caraku harus   elegan.  EO yang lainnya datang ke homestay. Memberi kabar kalau akan jalan-jalan ke pantai utara. Jalan yang dilewati persis seperti jalan yang aku lewati bersama anak-anak. Seandainya nyaliku lebih...