Peralihan Rasa

Aku semakin muak pada diriku yang tak kunjung usai
Menanti akhir kisah yang takkan tercerai-berai
Aku yang baru memulai dengan harap kau menetap
Menelan pilu hatimu yang semakin tak mantap

Kau anggap kisah kita gurauan
Salahku terlalu serius berangan-angan
Termakan pikiran tak karuan

Kala pertengahan jalan kau mengatakan
Dengan dirinya ada jarak yang renggang
Membutuhkan sedikit ruang penyegaran
Menggunakan aku sebagai korban

Bersama carut-marutnya revisi
Ditambah hiruk pikuknya hati
Meminta kisah kita disudahi
Kau layaknya aktor pemain dramaturgi
Menganggapku tersangka memutar balikan fakta

Aku tidak akan datang jika tak kau beri ruang, Sayang
Bisa saja dulu aku menghindar, tapi aku memaksa
Bisa saja dulu kau menjaga jarak, tapi kau lanjutkan permainan

Aku tempat singgah untuk beristirahat
Sebelum kau menepi kembali pulang
Pada Puan yang membuatmu terikat

Harum kopi panas bercampur harum tubuhmu senja itu
Yang dihidangkan untuk obrolan ringan kita
Menantiku siram sebab hatiku tengah mendidih
Merintih pedih memendam rasa
Nadamu dengan halus menjelaskan, kalau kita tak bisa bersama
Sikapku dengan tenang menerima, kalau kita tak pantas bersama

Perlahan memori tentangmu, aku alihkan dengan hal lain
Buku dan musik kini menjadi hal rutin
Semakin bercumbu buku semakinku lupa dirimu
Atau
Semakin pergi, menjauh, berkelana semakin terbuka pikiranku

Sosial media bukan lagi tempatku mencari kabarmu
Bukan sekedar kita yang saling terluka
Tapi juga tentang humanisme dan keprihatinan
Mencari uluran tangan orang-orang dermawan
Atas maraknya tragedi kemanusiaan

Masalah pagimu, siangmu, malammu bukan lagi urusanku
Perihal hadirmu, tetapmu, pergimu bukan lagi untukku
Aku tidak munafik ini cara perlipur lara
Tapi kali ini logika mendominasi rasa

Jika aku masih memikirkan dirimu
Berharap sesuatu yang semu
Seakan tak ada tujuan selain kamu
Malang sekali nasibku

Kegiatan organisasi menjadi pelarian
Mengangkat masalah negeri dan aksi menjadi soal nurani
Kehadiran aspirasi dan demokrasi sangat bergengsi
Kabut Riau dan Kalimantan patut disudahi
Air mata Ambon dan Wamena harus ditangani

Aku
Mendadak menjadi seorang demonstran
Bentuk penolakan atas ketidakadilan
Mungkin efek gagal menjadi pilihan
Belum pantas mendapat tambatan

Aku
Yang sebelumnya tak mau peduli
Menghindar obrolan kaum elit pejabat tinggi
Dari politik hingga ekonomi
Memikirkan hati dan diri sendiri
Malah mengutuk para orang tua menyebalkan
Yang tak becus tangani persoalan

Bangsa ini mengalami krisis
Entah moral, rasial, atau institusional
Aku yang masih amatir terkait nasionalis
Memaki diri dengan setimpal
“Sial! Mengapa baru sekarang ada akal?”

Aku
Kembali mengukir sebuah kisah
Sakit hati membuatku berubah
Atau sadar karena Pertiwi sedang susah

Aku
Tak berharap kau lakukan hal serupa
Karena kita memang beda rasa
Tapi terbentur karena kesamaan
Sama-sama  terbentuk untuk jadi pribadi mengesankan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesona

2. Perkenalan

Hakikat tertinggi dalam cinta adalah menjaga