3. Intuisi
Kalimat itu otomatis terlontar dari setiap orang yang bangun tidur di homestay.
Menandakan urutan mandi yang sudah menjadi tradisi sedari Tasikmalaya.
Siapa yang bangun lebih dulu, maka ia berhak atas kamar mandi sesuai urutannya.
Aku termasuk kategori bangun pagi yang standar. Tidak terlalu cepat bangun dan
tidak terlalu akhir. Pertengahan. Itu pun saat kebagian urutan, aku hanya
sekedar sikat gigi dan cuci muka. Tidak sempat mandi. Alasannya adalah pagi ini
aku mau jogging. Olahraga kecil sebelum pergi ke gunung. Padahal aku
juga belum tahu cara apa dan bagaimana ke gunung nanti. Mempersiapkan
seakan-akan sungguhan kesana. Lagipula cuacanya sangat mendukung untuk
merenggangkan otot-otot yang berdebu akibat timbunan junk food saat di
Jakarta.
Sekitar 30 menit aku habiskan untuk jogging. Ditambah pemanasan, perenggangan, sit
up tanpa back up dan pendinginan. Di ujung matahari terbit aku
hadapkan wajah dengan mata tertutup. Sinar matahari tembus dari balik kelopak
mataku. Meskipun terpejam, aku bisa melihat warna merah samar-samar. Akhir
aktivitas yang produktif itu, aku memeluk diriku sendiri erat-erat. Bersama
rasa syukur atas segala yang telah Allah SWT berikan. Nikmat. Betapa
menenangkannya saat itu. Sangat beruntungnya aku menjadi hamba-Nya. Dari sekian
banyak umat dan pilihan manusia yang sangat mungkin untuk tidak menjadi
pendosa, Dia memilihku.
Di ujung dermaga, sembari melihat tanaman bakau memecah ombak, ada seseorang
yang jalan kearahku. Aku memperhatikan, ternyata dia hanya lewat. Sekedar
jalan-jalan juga rupanya. Berdialog sedikit, berharap ada beberapa data yang
bisa ku ambil. Cukup berpengaruh untuk pagi ini memang.
Sekitar pukul 07.00 WIB teman-teman memanggilku. Suara teriakan mereka terdengar
samar. Mengajak untuk makan karena sarapan sudah siap. Aku pamit kepada lawan
bicara, si warga lokal. Dia mengiyakan. Berlari-lari kecil menuju rumah.
Laparrrrr!
Di antara sulitnya memakai eyeliner dan gelapnya kamar membuatku semakin
malas memoles wajah. Aku berdebat dengan diri sendiri.
“Ayolah!
Luruskan niat. Innamal a’malu bin niat. Kau kesini mau penelitian atau
cari pasangan?”
“Tapi
kalau penelitiannya beres, dan bisa dapat pasangan juga untuk apa ditunda?”
“Pasangan
itu bonus, sekarang fokus ke tugasmu”
Anak-anak pesisir kemarin yang sempat mengajakku jalan-jalan datang ke homestay.
Cukup pagi untuk bermain. Mereka memanggil-manggil namaku. Wah
mendadak sangat terkenal, nih. Dengan bangga ku bawa salah satu buku cerita
yang dibeli di Jakarta. Aku mendongengkan kisah nabi Nuh AS dengan bahtera yang
dibuatnya di atas bukit. Di dermaga tempat aku jogging sepertinya
menjadi lokasi yang tepat untuk berbagi cerita dengan mereka. Alasannya
tidak lain tempat yang sepi, terbuka, dan dibantu pemandangan yang indah pula.
Anak-anak duduk di bawah. Sekitar 15 orang atau lebih mungkin. Entah anak
siapa. Mereka mudah sekali diatur. Penurut. Atau bisa saja aku yang terlalu
handal mengambil hati mereka. Mulai menyombongkan diri lagi. Sadarlah, setan
diusir karena kesombongannya, kataku dalam hati. Di akhir cerita aku membuka
dialog, pelajaran apa yang bisa diambil dari kisah yang ku ceritakan. Beberapa
dari mereka ingin menjawab tetapi tidak berani. Harus sedikit dibangun rasa
percaya diri.
Di pertengahan dongeng sebenarnya pikiranku sedikit bercabang. Memikirkan schedule selanjutnya terkait fieldtrip ini. Khawatir aku menjadi orang yang lalai dalam kelompok. Selepas mendongeng dengan halus membujuk anak-anak agar pulang. Aku jelaskan dengan baik kalau mainnya nanti lagi selepas mereka mandi. Tapi namanya anak-anak, susah sekali membuatnya mengerti. Jika sudah nyaman, sulit untuk lepas. Sedikit kesal aku bilang, nanti aku janji kalau kalian mandi, makan, dan belajar dulu akan mendongengkan lagi. Kalau tidak, aku akan marah dan tidak ingin berdongeng. Sebenarnya aku kurang suka cara mengancam seperti itu. Entahlah, tidak ada cara lain.
Mereka pergi dengan langkah terseret-seret. Tidak ingin mereka menelan kekecewaan. Takut nanti situasinya tidak seperti semula. Sedikit rasa bersalah hadir, tapi buru-buru ku tepis dengan pikiran tugas-tugas deadline.
_ _ _
Ku lihat pemuda di bibir kapal itu ada di warung. Masih menggunakan celana
selutut. Kau tidak ganti pakaian, ya? Dia sibuk membantu kelompok lain yang
sedang observasi dan wawancara juga. Aku mewawancarai salah seorang narasumber,
namanya Allay. Memang itu nama aslinya. Sudirman Allay. Kelompokku yang
seharusnya di dampingi kak Uchen, hanya diawal saja bersamanya. Sisanya kami
mencari narasumber sendiri. Mengingat kak Uchen memegang tiga kelompok dan pasti
dia kerepotan.
Kami membagi dua team. Team pertama mewawancarai tokoh masyarakat, dan teamku mewawancarai nelayan. Kelompokku beranjak memutuskan berpisah di pesimpangan jalan. Kami menghampiri kapal nelayan yang sedang berlabuh. Awalnya bertanya hal ringan seperti sedang apa, dengan siapa saja melaut, menjurus ke seberapa berdampaknya pariwisata terhadap kegiatan ekonomi. Di kapal itu terdapat dua nelayan. Kami yang tinggal beranggotakan tiga orang dipecah lagi menjadi dua. Sedikit keluar dari topik pembicaraan sebenarnya, karena nelayan yang ku wawancara berasal dari Pulau Panjang. Saat wawancara dengan nelayan pertama aku ditemani Rikco. Semuanya berjalan lancar. Ketika sudah selesai dengan narasumber yang pertama, aku sedikit sok akrab dengan nelayan yang kedua. Aku tidak memperhatikan kedua anggota teamku asik foto-foto di depan kapal. Dalam wawancara dengan nelayan kedua, ada sedikit rasa tidak nyaman. Semakin lama si nelayan itu suaranya pelan dan duduknya kian bergeser ke arahku. Aku yang awalnya tidak menyadari kian paham. Sulit sekali memotong pembicaraan darinya. Tanpa ku tanya dia cerita hal apapun. Isterinya, anak-anaknya, hingga teman kapalnya yang suka berselisih. Sebagai peneliti, etika dengan narasumber memang dijunjung tinggi. Mungkin itu hanya sedikit hambatan. Terlebih lagi jika menjadi jurnalis, mengangkat isu-isu krusial di pelosok. Berfikir positif memang sangat membantu. Dia mungkin sedang dalam saat-saat sulit sehingga membutuhkan teman curhat dan berbagi, pikirku. Tapi sikap tidak nyaman memang tidak bisa ditutupi. Aku yang semakin terganggu dan jaraknya sudah cukup dekat segera berdiri dan menjaga jarak lagi. Pura-pura melihat jam tangan dan mengambil celah memotong pembicaraan saat ada jeda. Ku panggil teman-temanku dan mengisyaratkan kalau data sudah cukup, saatnya menyusun laporan.
_ _ _
Suara angin terus berdesir. Langit mulai terlihat kemerah-merahan dengan
sedikit coretan jingga. Air laut kian pasang. Masih ku layangkan jari-jari di
atas laptop menyusun laporan. Tidak lama laptopku lowbat. Tidak ada rasa
panik saat itu, memang sudah waktunya karena dipakai seharian. Laporan pun
dipindahkan ke handphone. Sembari menunggu kamar mandi yang bergilir,
aku mengelus lembut kucing-kucing di sekitaran rumah. Bukan banyak lagi, tapi
memang seperti kampung kucing. Satu hal yang perlu diketahui, jangan menyentuh
mereka saat sedang makan. Kucing disana meskipun banyak, kurang kasih sayang
dan sangat bringas. Butuh pendekatan yang cukup lama untuk akrab dengan mereka
Di tengah kedekatanku dengan kucing-kucing disana Bu Prima salah satu dosen kami menghampiri. Aku langsung mengulurkan tangan dan bertanya ada apa. Beliau memanggil salah satu temanku yang bernama Dinda. Aku bertanya lagi Dinda yang dia maksud Dinda Ramasari atau Dinda Oktariana. Mengingat ada dua dinda dalam satu kelas kami. Terlihat bingung di kerut mukanya sebelum memutuskan memanggil dua-duanya. Tidak lama selepas Dinda kuadrat itu dipanggil ada bekas tangisan di mata Dinda Ramasari. Mata sipitnya bengkak. Suaranya sesegukan. Tidak ada pancaran bahagia lagi di wajahnya. Dinda Oktariana yang kebetulan satu homestay denganku terduduk lemas. Aku tidak langsung bertanya ada apa. Desas-desus yang ku dengar ayah Dinda Ramasari sakit dan sempat kritis. Disitu aku hanya menjadi pendengar, tidak berani bertanya lebih. Padahal ada rasa ingin tahu yang lebih pada sahabat cinaku itu. Aku terpaku. Dinda Ramasari adalah teman awalku saat menjadi maba[1]. Kebaikan dia dan keluarganya yang membuatku merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada dia di kampus. Walaupun sejauh ini aku tidak membantunya banyak tentang tugas-tugas kuliah. Dia yang berbaik hati mengizinkanku untuk nginap di kosannya, makan masakan tantenya yang sangat lezat, berangkat bersama ospek jam 5 pagi, semua kenangan itu seperti tergantikan dengan rasa sakit yang dialaminya kini. Maaf Din, sejauh ini aku tidak bisa membantu apapun.
Magrib kian menghampiri. Dipertengahan menuju isya satu homestay berkumpul. Bercerita hal ringan, salah satunya tentang kondisi di Sumatera yang ada bajing locat sampai ngomongin orang sambil rebahan. Beredarnya ganja secara bebas, diberikan senjata untuk pegangan menjaga diri, bernostalgia saat menjadi mahasiswa baru. Kedekatannya tidak dibuat-buat. Ku rasa saat-saat seperti itulah yang mengeratkan, dan tahu sifat asli satu sama lain.
Selepas isya, kami bergegas menuju aula taman untuk presentasi hasil penelitian yang didapat. Sebelum presentasi, Bu Prima dan Bu Mela memberikan kabar duka. Ayahanda Dinda Ramasari meninggal. Seperti pisau tajam menjurus tepat di jantung. Benar-benar tepat sampai aku tidak bisa bernafas secara teratur. Shock menghujam jantungku saat itu. Mataku terpaku hanya pada satu titik. Tidak sempat menangis. Pikiran dan hatiku lebih memilih mengingat-ingat Dinda. Bagaimana dia dikapal? Bagaimana kabar terakhirnya? Bagaimana kabar tante dan ibunya? Pikiranku semrawut memikirkan nasib Dinda yang malang.
Malam itu tidak seperti malam-malam sebelumnya. Ada satu
bagian yang hilang. Hidup memaksa terus berlanjut, waktu terus berjalan, tugas
harus dipresentasikan. Sejujurnya dibanding teman anggota kelompok yang lain
aku merasa yang paling kosong. Tidak tahu apa yang akan ku presentasikan.
Ditambah kabar duka yang menyelimuti malam ini. Merasa sudah paham inti materi
yang ingin di sampaikan tetapi sulit dikomunikasikan. Inti materinya adalah
“pariwisata menaikkan pendapatan dan kelas sosial masyarakat lokal bagi mereka
yang terbuka akan adanya wisata alam”. Sulit sekali mendeskripsikan dan
menjabarkannya secara detail. Ku putuskan membuat poin-poin di selembar
catatan. Kubiarkan kalimat yang keluar dari mulutku improve. Berusaha
yang ku bisa mengendalikan emosi supaya tidak panik, mengontrol perasaan agar
rileks dan tenang. Meyakinkan ini semua akan baik-baik saja. Tidak ada masalah
apapun. Bersikap kalau aku tahu segalanya. Jangan tunjukkan kalau isi kepala
ini kopong melompong. Mainkanlah drama sok tahu ku lagi. Bergaya layaknya aku
seorang narasumber yang materinya hanya aku yang tahu.
Beberapa perwakilan kelompok maju mengambil urutan presentasi. Kelompok kami sebenarnya presentasi urutan ketiga. Tapi kenyataan yang didapat malah kelompokku maju pertama. Sebenarnya ada rasa kesal. Buat apa diundi jika ujung-ujungnya maju tidak sesuai urutan. Baiknya, aku tidak terlalu lama diselimuti rasa panik karena maju di urutan setelah itu. Ungkapan “kelompok pertama maju menjadi tumbal” benar-benar ada dan ada rasa maklum disitu.
Banyak hal yang patut aku syukuri saat itu tatkala aku maju pertama. Salah satu teman kelompok menghampiri EO yang sedang asik berbincang. Meminta izin ingin wawancara. Saat pertamaku juga bisa berbicara dengan pemuda di bibir kapal. Aku tidak bertanya apapun. Termasuk tidak bertanya terkait dengan observasi kelompok. Aku menjadi pendengar lagi. Suara pemuda itu lucu. Sedikit serak-serak basah. Jumlah EO yang kami wawancara empat orang. Aku berusaha senatural mungkin tidak bersikap mencolok. Tapi pesonanya.....ampun! aku meleleh. Apalagi ketika dia meneguk kopi hitam malam-malam. Malam itu tidak berasa gelap saat dia di sebelahku. Ku kira saat melihatnya di warung siang tadi, dia penduduk lokal. Di tengah perbincangan aku bertanya identitas masing-masing EO. Salah satu cara tak terlihat aku tahu identitasnya. Ku tanya nama lengkapnya, tanggal lahirnya, alamat rumahnya. EO yang lain ternyata tidak tahu latar belakangnya. Dia ditantang untuk mengambil kartu identitas karena tidak percaya umurnya yang menginjak 19 tahun. Lucunya, dia sungguh-sungguh pulang hanya untuk mengambil SIM. Kalau aku jadi dia pasti ku tolak mentah-mentah tantangan itu. Lebih baik esok pagi. Mengingat jarak homestay dan aula taman cukup jauh dan gelap. Ditunjukkannya SIM tersebut kepada kami. Ku lihat kota kelahirannya di Bandung pada tahun 1999. Sama seperti tahun lahirku. Aku lahir 5 bulan lebih dulu darinya. Aduh! Dia brondong. Sempat mengingatkanku pada masa lalu. Niatnya incaranku kali ini lebih tua beberapa tahun, nyatanya lebih muda. Tapi apa boleh buat, perasaan jatuh sudah terlanjur muncul. Saat itu juga dia bolak-balik mempromosikan jasa tripnya yang bernama "Just Trip Indonesia". Semakin kagum aku dengannya. Seketika ditengah perbincangan hangat kami, lampu mendadak mati. Senter handphone dinyalakan. Jelas senter itu silau karena langsung mengenai wajah. Aku yang memiliki mineral gelas menaruhnya di atas senter handphone. Sempat tidak seimbang, tapi bisa diakali. Perbincangan pun berlanjut hingga larut. Selepas semua kelompok maju, saat-saat yang menyebalkan. Ketika itu juga perbincangan kami harus berakhir. Tapi ini benar-benar diluar ekpektasi. Aku kira hanya sekedar tahu namanya, tapi berlanjut sampai tahu kota kelahirannya. Tuhan, Engkau Maha Asyik.
Selesai semua kelompok maju kami bergegas menuju homestay. Melewati pinggiran rumah-rumah penduduk dan kapal-kapal berukuran sedang. Aku melihat keatas, belum pernah kulihat bintang sebanyak ini sebelumnya. Suara gemercik air laut terdengar 24 jam. Tidak ada suara bising kendaraan dan alunan musik dangdut tetangga. Benar-benar hening. Keheningan itu pecah saat terdengar suara teriakan laki-laki dari arah kapal.
“WAAAAA!!!”
“AGHHHH!!”
Kami
langsung menoleh dan bertanya-tanya. Salah satu teman lelaki kami bilang
“Paling
orang mabok kali tuh.”
Pikiranku ingin bertanya lebih lanjut. Awalnya ku pikir
mabuk laut, ternyata mabuk minuman keras. Apakah sebegitu kerasnya alkohol
hingga membuat orang teriak-teriak tidak jelas? Bagaimana jika orang itu
tercebur ke laut karena tidak sadar? Aku hanya melanjutkan langkah dan berfikir
kejadian itu sekedar angin lalu.
Di penghujung malam tatkala aku sudah merebahkan badan di karpet dan berniat ingin tidur, aku teringat seeorang. Aku rindu ibu. Biasanya ketika di rumah dan merasa tidak nyaman tidur, aku tidur di sebelah ibu. Ndusel-ndusel harum badannya. Jika beliau merasa terganggu, aku hanya menempelkan lengan dan memunggunginya. Aku ada niat untuk pergi ke rumah pemilik homestay dan meminta izin tidur bersama ibu asuhku seperti di Tasikmalaya. Tapi aku mengurungkan niat karena mengingat di pulau ini pukul 8 sudah cukup larut. Sedangkan ini sudah lebih dari pukul 10 malam. Jangan manja, kalau sudah sampai rumah nanti, aku bisa menumpahkan semua rindu yang terkumpul di pulau ini. Aku kembali mengingat hal-hal baik yang ku alami hari ini. Anak-anak, keakraban di homestay, dan …….sial aku teringat lelaki di bibir kapal itu lagi.

Komentar
Posting Komentar