Your Choice. Allah SWT or Him?


Bismillahirrohmaanirrohim.. 

Sepenggal cerita dimana proses hijrahku karena takut akan neraka Allah SWT, kagum dengan kisah Rasulullah SAW. dan para sahabat, dan kesadaran diriku sendiri yang paling penting. Sama seperti kalian, sedang belajar memperbaiki diri. Dan belajar lebih mengenal akhirat. Aku tidak lebih baik. Mungkin aibku lebih banyak. Namun Allah menutupi itu semua dengan kasih sayang-Nya. Aku juga pernah merasakan cinta dan patah hati, pernah nakal dan Astagfirullah…. Jahiliyah sekali diriku saat itu. Sebut saja aku Sajidah, karena jika kelak memiliki anak perempuan, aku ingin bidadari mungil itu menjadi ahli sujud.

Hijrah, suatu proses menuju yang baik. Aku percaya Allah Swt. menyukai proses.  Setiap insan akan kembali kepada yang khaliq, dengan cara apapun, bagaimanapun, dan dimanapun. Maka dari itu aku ingin berhijrah. Doakan aku istiqomah ya ukhti. Ini petikan dari kisah hijrahku. Semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua dan semoga kita selalu istiqomah berjalan di jalur-Nya hingga sampai. Aamiin.. Cekidot!!! :D

Yeeaaay!!! SMP! Nem SD kala itu 26,55 dari 3 mata pelajaran. Tapi ya ketendang dari sekolah pertama. Saat SD aku anak yang polos, cerdas, dan rajin. Masuk SMP mulailah pergaulanku menjadi-jadi. Karena aku mulai mengenal si pria itu. Sssttt!! Jangan bilang-bilang ya ukhti. Dulu loh, jaman jaman hp esia. Aku sangat boros, sering isi pulsa hanya untuk hubungin si ‘Dia’. Pernah di satu waktu aku benar-benar tidak punya uang satu rupiah pun. Karena emosi belum stabil, jiwa muda masih labil, dengan sangat terpaksa minta uang 2rebu rupiahhh buat beli apa lagi kalau bukan pulsa, yaa ngabarin si ‘Dia’. Waktu si ‘Dia’ mulai cueekk rasanya itu… sedih vroh. :’)

Seiring berjalan nya waktu, aku bisa menerima ‘Dia’ pergi. Bukan pergi di panggil Yang Maha Kuasa ya ukhti.. Tapi pergi meninggalkan daku seorang diri, sendirian L (Jujur ini lebay). Kalau di panggil sama Yang Maha Kuasa juga ga masalah kok. Di panggil melaksanakan rukun islam ke-2 maksudnya. Hehehe..

 Masa ini prestasiku menurun.

­-----oOo-----

Lambat laun, aku mengenal ‘Dia’ yang kedua. Panggil saja ‘Doi’. Aku mengenalnya sejak SD, tapi tidak tahu siapa namanya. Toh ‘Doi’ juga saudara teman ku. Mengenal ‘Doi’ semakin lama dan semakin dekat. Kita pacaran. Awalnya seorang pria tinggi berkulit sawo matang itu berjanji menjagaku. Hubungan buruk (pacaran) itu berlangsung cukup lama, sampai kelas 3 SMP. Kami pernah bergandengan, bertatapan, dan ‘Doi’ pernah merapikan rambutku saat terurai menutup mata. Dag Dig Dug Dag Dig Dug.…. Saat ‘Doi’ didekatku malu-malu kucing, ketika ‘Doi’ jauh dicariin. Haduhhh…. Pusiang pala Sajidahmutz.. Pantas saja Allah Swt. Dan Rasulullah melarang wanita dan pria yang bukan mahram nya berdekatan lewat batas. Jantung hampir copot begitu. Coba Allah tidak melarang, bisa copot beneran itu jantung.

Kata Allah, “Dan janganlah kamu Mendekati Zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (Q.S Al-Isra 17:32)

Sejahiliyah nya aku, keluarga tetap harus dijaga kehormatannya. Untung saja aku tidak terjerumus lebih jauh ke jurang kesesatan. Allah masih sangat mencintaiku. Aku malu. Malu akan kenikmatan yang sudah DIA berikan tanpa putus-putus nya. Aku juga terharu, apa yg dapat aku berikan. Sholat saja bolong-bolong. Iman masih sangat lemah dan istiqomah masih goyah. Ya Allah, hina sekali aku. Maafkan aku Ya Rabb.. Aku hanyalah sosok titik kecil yang diselimuti dosa.

“Keduanya berkata : ‘Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.’ (Q.S Al-A’raf 7:23)

Kelas 3 SMP itu, aku sangat terkejut mendengar ‘Doi’ pacaran dengan perempuan lain. ‘Doi’ bilang terpaksa. Sebut saja perempuan itu ‘Rina’. Rina memiliki penyakit cukup serius. Leukimia. Dia sering pingsan di sekolah dan batin nya sempat tertekan. Spontan aku sangat kaget sekaligus terpukul. Hubunganku dengan ‘Doi’ semakin memburuk. Kecemburuan ku menjadi-jadi, kesedihanku berlarut-larut. Aku lupa ada Allah SWT. yang selalu menemani setiap insan. Lupa akan keluarga yang selalu mensuport dikala sedih dan selalu memberikan nasehat. Aku lupa akan pelajaran yang selama ini aku abaikan. Aku EGOIS!! BODOH!!

-----oOo-----

Seling seminggu, dua minggu mulai ada perasaan tenang. Dan Allah SWT. tetap setia menemaniku saat yang lain tak mampu setia. Aku terbiasa hidup tanpa ‘Doi’. Memang, pengkhianat lebih cocok dengan penggoda. Pikirku saat itu.

Berhubung kelas 3 SMP, UN di depan mata. Tinggal menghitung hari. Menyesal rasanya menyia-nyiakan waktu kemarin untuk hal yang sangat merugikan itu. Tiba sampai pengumuman NEM, nilai ku rendah. Aku terlempar dari sekolah yang di impikan orang tua.  Aku menyadari begitu berarti nya waktu. Seperti firman Allah SWT. yang artinya :

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Q.S Al-Asr 103:1-3)

Seiring berjalan nya waktu
Detik demi detik
Hari demi hari
Minggu berganti bulan
Dan bulan berganti tahun, begitu seterusnya

Salah satu pesan Imam Ghazali. Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini? MASA LALU.
Wanita pintar banyak.. Cantik banyak.. Tapi yang sholehah?
Kisahku ini tak akan bisa aku lupakan, sebagai pelajaran yang sangaaaattt berharga. Aku sudah mulai memaafkan semuanya. Dan Semoga Allah SWT. memaafkan semua kesalahan ku dan menerima tobatku. AAMIIN..
Ukhti, yuk kita sama-sama berhijrah. Allah SWT. sudah memerintahkan untuk segera.

Seperti di Q.S Al-Kahf 18:23-24 : “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu : “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”.

Jatuh hati itu wajar, titipkan hati yang suci itu kepada sang pemilik hati. Cinta itu fitrah, maka jadikan yang mulia itu dengan menikah. Memang manusia tak ada yang sempurna karena kesempurnaan hanya milik Allah semata. Seorang yang sangat mulia juga pernah melakukan dosa. (baca Q.S Abasa : 80).

Assalamu’alaikum Warahmatullah Ukhti…. ^_^


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hakikat tertinggi dalam cinta adalah menjaga

Pesona

Sudjiwo Tejo di diri Pak Pirus