Sebuah Keberlanjutan
Udara di desa kini mendadak memanas
Peralihan musim belum juga bisa ditanyai dengan pasti
Guguran daun-daun bambu mengisyaratkan kehati-hatian
Aliran air sungai kini deras
Setiap waktu terdengar menembus asap-asap dari jelaga
Aku masih mengeja rindu-rindu kita, Manisku
Setiap bagian mata dan jiwaku bergerak mencoba menembus segala dokumentasi kita
Foto-foto kita, tulisan-tulisan kita, hingga ulah-ulah kita
Setiap individu adalah unik, seperti katamu kala itu
Dan kau, seolah perusuh
Tiba-tiba masuk dan memporak-porandakan segala apa yang ada di hatiku juga jiwaku
Ako pontang panting membereskannya lagi
Tapi apa yang terjadi
Bahkan setiap robekan kertas yang tercecer masih menguapkan aroma khasmu dan mengingatkanku tentang senyumanmu
Akhirnya aku diamkan segala apa yang ada padamu, padaku
Ulahmu yang tak kenal waktu
Tajam pikiranmu yang tak menghilang dari tulisanku
Aromamu yang memabukkan dan mendobrak penciumanku
Hingga akhirnya kuukir segala tentangmu di jiwaku
Ayah Bara,
Purwokerto Selatan,
Januari 2021
Komentar
Posting Komentar