Mimpi yang Tertunda di Pulau Tunda
Setiap waktu, setiap saat,
setiap hembusan nafas kini penuh akan rasa syukur. Diri yang kian hari kian tua
namun semangat tak kunjung menua. Kulit yang semakin termakan usia, tapi jiwa
tetaplah muda. Semua sesederhana itu. Manusia saja yang kadang memperumit hal
yang sepatutnya disederhanakan. Tidak mudah untuk membentuk diri menjadi
mengesankan. Butuh ditempa berkali-kali. Entah dengan kecewa atau sakit hati.
Memang, perjalanan menggiring seseorang menjadi lebih sentimen dan pemerhati
hal-hal kecil. Terbentuk atas muaknya segala ambisi dari kota, menyerah pada
setiap kemunafikan, memilih mengasingkan diri ke salah satu pulau terpencil di
daerah Banten. Ada pula yang lebih istimewa daripada membicarakan jatuh cinta
dan sakit hati. Tentang segala rasa syukur terkait apa yang terjadi bisa saja
digariskan untuk mendekatkan pada setiap jawaban dan tujuan. Sebab, yang paling
‘salah’ dari jatuh kemudian cinta adalah
ketika seseorang menyelam terlalu dalam pada imaji yang dibuatnya sendiri. Dan
harapan-harapan kosong yang dikarang sendiri, sampai lupa menyadari angan itu
dibuat karena terlalu berekspektasi. Menyayangkan sekali cinta yang diberikan
atas dasar imbalan. Slogan dari seorang penjelajah membuat semakin ingin
mencicipi pulau yang memiliki dermaga galau ini, yakni “jangan tunda ke Pulau Tunda”.
Berangkat atas dasar ambisi,
salah satu teman kuliah mengontak EO yang biasa memberikan jasa trip wisata. Uang sudah ditransfer,
tinggal menunggu keberangkatan. Sekitar kurang dari seminggu bertanya fasilitas
apa saja yang didapat. Segala perincian diberikan sampai menu makanan pun
ditanyakan. Kemungkinan buruk pun dijelaskan seperti ketiadaan listrik, sulit
sinyal, dan tidak ada kendaraan. Itu semua masih mudah hadapi. Jarak dari Pulau
Jawa ke Pulau Tunda masih terbilang dekat. Namun masyarakat lokal sulit akses
dan masih memakai diesel yang waktunya terbatas. Listrik menyala pukul 18.00 –
21.00 WIB. Sisanya hanya lampu sederhana yang bersaing dengan gemerlap bintang.
Alasan tidak ada PLN disana karena jumlah keluarga masih sedikit dan PLN akan
rugi jika listrik dipasang selama 24 jam. Tidak sebanding dengan pemasukan pembayaran
yang diterima.
Berangkat ke pelabuhan
Karangantu pukul 07.00 WIB. Jalanan yang dilewati tidak beraspal dan hanya
semen. Mungkin untuk bus besar tidaklah muat. Sekitar 1 jam 45 menit perjalanan
laut dimulai. Sampai di Pulau, langsung menuju homestay dipandu oleh EO khas perawakan penjelajah. Pulau Tunda
terbagi menjadi 2 kampung; kampung timur dan kampung barat. Kapal mendarat di
dermaga kampung timur. Kotoran kambing bercecer dimana-mana, matahari terik
menyengat, kucing-kucing oren berkeliaran. Ini tempat yang cocok untuk menempa
diri lebih berani. Untuk sebagian orang perjalanan ini mungkin sebuah pelarian,
tapi perjalanan kali ini sebuah proses pengobatan.
Satu satunya yang membuat tertegun,
saat anak-anak nelayan kisaran sekolah dasar berenang. Kebahagiaan jelas di
raut wajah mereka. Senyum dan kesederhanaan hidup masih terasa disini. Tidak
jauh dari sana ada lapangan voli dan taman baca. Entah harus senang atau
prihatin. Senang karena buku tersedia sangat banyak dan terdapat sebuah pendopo
anyaman bambu, lengkap dengan rak-rak kecil yang membuat setiap orang betah
berlama-lama disana jika tersusun rapi. Sayangnya, buku-bukunya tidak terawat.
Sampah yang berserakan terbuat dari lembaran-lembaran buku. Taman baca ini
lebih mirip gudang daripada perpustakaan mini. Setelah mengobrol dengan
penduduk lokal semua itu bisa terjadi karena tidak ada yang mengurus taman baca
itu lagi. Hanya ada satu sekolah SD dan SMP. Sedikit sekali mereka melanjutkan
pendidikan SMA/sederajat, apalagi sampai keperguruan tinggi. Bukan tidak ada,
tapi bisa dihitung jari. Jika ingin melanjutkan ke SMA/sederajat mereka harus
menyeberang pulau. Masyarakat lokal menyebutnya menyeberang ke darat. Jangan
dipikirkan untuk pulang pergi seperti di Jakarta-Bogor atau kota-kota lainnya
yang bisa dalam hitungan jam. Mau tidak mau, mereka harus kost atau menginap di rumah saudara. Kapal yang berlayar tidak
selalu ada dan tidak mungkin si anak pulang menyeberang ke darat setiap harinya
karena ongkos kapal pun mahal. Alhasil, kebanyakan dari mereka ikut melaut bersama
orangtuanya sebagai nelayan. Di usia yang terbilang dibawah umur, anak-anak
sudah diperkenalkan menjadi nelayan. Mendapat penghasilan di usia belia
tentunya menjadi hal menyenangkan. Apalagi kebutuhan hidup masih ditanggung
orangtua, uang yang di dapat bisa dipergunakan untuk jajan sepuasnya.
Kegembiran
anak-anak pesisir
Sudah menjadi tabiat saya si
pecinta permen kaki membawa satu bungkus dalam perjalanan ini. Awalnya sekedar
mencari peralihan rasa, malah menemukan sesuatu yang lebih berharga. Sebuah
makna hidup yang lebih baik. Sambil berjalan menyusuri rumah penduduk, saya
mencoba akrab dengan ibu-ibu sekitar. Salah satu anak berambut pirang merdiri
di balik sang ibu. Saya melemparkan senyum sambil mengeluarkan permen kaki.
Sedikit ragu, permen itu diambilnya. Responnya baik, senyum tersipu dari anak
pirang itu hadir. Saya minta si pirang untuk mengajak jalan-jalan. Dia ditemani
sang kakak mengajak saya ke taman baca, awalnya saya sangat antusias. Sampai di
tempat, tingkah saya kikuk. “Mampus!”
dalam hati. Termakan ekpektasi taman baca yang layak seperti di kota-kota. Saya
menatap si anak pirang, sembari melemparkan senyum.
“Kita beresin, yuk!”
Si pirang sedikit keheranan,
tapi saya mencoba meyakinkan. Kalau dipikir-pikir tepar juga kalau hanya saya sendiri orang dewasa. Paling cepat butuh
sekitar tiga hari penuh membereskannya. Satu hari penuh pun bisa selesai,
dibantu lima orang pria dewasa.
“Kita pasti bisa kok bikin rapi
lagi.” Masih berusaha membujuk.
Akhirnya, dia dan kakaknya
setuju. Tanpa berpikir panjang, satu orang perempuan dewasa dibantu para
kurcaci mulai eksekusi. Satu dua buku sudah kami pilah-pilih. Satu dua orang
kurcaci lain mulai berkumpul. Semakin lama semakin banyak. Sepuluh sampai lima
belas anak-anak membantu membereskan taman baca. Sekitar pukul 15.00 tubuh kami
mulai kelelahan. Beberapa buku sudah tersusun di rak, namun buku yang berarak
masih saja tak kunjung rapi. Itu pun buku yang masih di dalam ruangan, belum
buku di pendopo bambu. Tak tega rasanya memaksa anak-anak membantu lebih. Saya
putuskan melanjutkan besok. Sebagai apresiasi karena kurcaci-kurcaci itu sudah
bersikap baik, saya hibur dengan mendongeng. Sambil mencari tempat nyaman
berdongeng, saya berpikir kisah apa yang sekiranya sesuai dengan keadaan sosial
disini. Kisah Nabi Nuh AS beserta bahteranya yang siap berlayar menjadi pilihan
yang cocok. Kami menetap di pinggir pantai. Desiran ombak, hembusan angin,
benar-benar sebuah kenikmatan. Mereka sangat antusias. Hening dan menyimak
secara serius. Mungkin karena jarang mendengar dongeng. Tidak sia-sia sering
presentasi di kelas membuat percaya diri bicara di depan orang lain dan menjadi
seorang pendongeng dadakan tanpa latihan. Perlu di evaluasi dari segi pemilihan
kata yang masih terlalu baku, sehingga anak-anak harus dijelaskan berulang.
Dongeng itu ditutup dengan
pertanyaan pelajaran apa saja yang bisa di ambil dari kisah Nabi Nuh AS. Tidak
ada satupun dari mereka yang berani. Saya bujuk lagi dengan lebih meyakinkan.
Beberapa orang menjawab secara keroyokan.
Saya memantik untuk tunjuk tangan. Seketika semua diam. Sulit sekali membangun
rasa percaya diri mereka. Terbesit anak-anak harus dipancing dengan sesuatu.
“Kalau ada yang berani,
nanti kakak kasih sesuatu.” Sambil mengeluarkan permen kaki.
“Wahhh coklat.” Kata mereka
semangat.
“Ini permen, bukan coklat.” Ucapan itu hanya tertahan.
Bentuk penghargaan untuk
anak yang dengan berani menjawab di depan temannya. Saya cium kepala anak itu, “Hemh… bau matahari.” Hanya bisa
bergumam.
Saat itu juga stok permen kaki selama dua hari kedepan sudah habis.
Tidak ada penyesalan sedikitpun. Sesekali berinteraksi dengan kehidupan pribadi
mereka, banyak mimpi yang masih tertahan. Ingin jadi guru, ingin mainan, ingin
segala hal yang menurut kita sederhana dan mudah mendapatkannya. Untuk sekedar
permen kaki mereka sangat menghargai itu. Memang, hanya semesta yang paling
tahu cara bercerita. Menyederhanakan rasa yang tak terduga. Menunjukkan sisi
dunia dari daratan hingga lautannya. Entah bagaimana, anak-anak selalu saja
istimewa. Kesulitan hidup menyesuaikan kondisi terkini, dan ingin berkembang
untuk ibu Pertiwi, namun terantai dengan pulau sendiri. Mereka tetap berjalan
dengan cara yang mengesankan, bermain dengan strategi hidup yang pintar, dan mengedepankan
berbagai kekuatan sabar. Pelajaran kali ini bukan hanya tentang pola hidup,
atau ambisi tentang keinginan dan bertahan hidup. Kali ini semua tentang rasa
syukur, melengkapi kekurangan dari petinggi dengan memanfaatkan kuasa Ilahi
yang tak tertandingi.
Si Pirang dan Sang Kakak
Komentar
Posting Komentar