Segala Kemudahan Semu
Membahas isu lingkungan, kita tahu banyak yang perlu dibahas. Gerakan sosialnya, limbah/sampah, iklim, ekologinya maupun perempuan sendiri yang ternyata erat kaitannya dengan isu-isu lingkungan.
Lingkungan itu sifatnya dinamis, terus berubah dan unik. Lingkungan di Jakarta dengan lingkungan di beberapa daerah Jawa Tengah berbeda. Di Jakarta dikelilingi beton-beton, kendaraan dan polusi. Sedangkan di Jawa Tengah beberapa banyak pohon dan asri. Kita tidak sedang berbicara dari sudut pandang kota-desa. Namun yang perlu digaris bawahi, setiap tempat itu unik, sehingga kita bisa belajar dari lingkungan atau pendidikan berlingkung. Istilah pendidikan berlingkung ini saya dapat dari dosen saya di AKN, intinya dimanapun kita berada, kita belajar mengenali lingkungan kita.
Apakabar Bumi Hari Ini?
Saya mau coba merefleksikan bumi hari ini, di bulan ramadhan. Apakah puasa di bulan Ramadhan identik juga dengan puasa dari produksi sampah? Sayangnya tidak. Beberapa fakta yang saya perhatikan dan ternyata ada risetnya, pemakaian takjil dalam kemasan kresek atau sekali pakai meningkat, 14% sampah adalah kemasan plastik, banyaknya sisa konsumsi yang terbuang sebanyak 500 ton yakni 40%. Kenaikan sampah setiap bulan ramadhan sebesar 20%, dan Indonesia masuk dalam 5 besar penghasil food waste. (zerowaste.id)
Seberapa daruratnya kita untuk mengambil peran?
- Melihat faktanya secara langsung TPA Bantar Gebang sendiri tahun 2020 sudah tidak bisa menampung sampah karena melebihi kapasitas.
- Menurut penelitian Jambeck tahun 2015 Indonesia adalah penyumbang sampah plastik nomor 2 di dunia.
- Dua hari sampah di Jakarta adalah sebesar dan setinggi candi borobudur.
Kalau kita tarik lebih jauh lagi dari kacamata global, hal ini bisa disebut sebagai tragedy of the commons. Istilah ini dari Garrett Hardin yang menjelaskan situasi dimana properti yang kita gunakan secara bersama seperti udara, air, tanah, lahan terbuka hijau, menjadi sebuah ancaman bagi keberlangsungan hidup manusia.
Kita bisa mengambil contoh seperti air. Permukaan bumi dua per tiga diselimuti oleh air. Sebagian besarnya air laut atau asin yakni 97,5% sehingga tidak bisa di konsumsi dan 2.5% adalah air tawar. Air tawar itu berasal dari salju dan es, kalau untuk negara yang tidak ada salju seperti Indonesia bergantung dengan air tanah, sisanya sungai dan setu. Jika di Indonesia krisis air mulai terlihat dan pencemaran udara di depan mata. Selain air, tragedy of the commons itu hutan akibat dari keserakahan industri dan jangan lupakan ada peran kita juga di dalamnya. Padahal 1.6 triliun orang sangat bergantung pada hutan. Hutan itu bukan hanya tempat pepohonan menghasilkan komunitas, tapi sumber dari kenyamanan iklim, kebutuhan pembangunan, dan keseimbangan alam. Yang secara tidak sadar sebenarnya kita butuh keanekaragaman hutan, bukan hanya penanaman monokultur. Jika hanya tanaman sejenis saja, ada unsur hara yang hilang karena pembabatan. Ini bisa kontribusi industri atau kontribusi kita karena ingin mengonsumsi apa yang kita sebut trend yang itu-itu aja.
Dari sekian banyak data dan fakta yang
menunjukkan kemungkinan krisis, tetapi sebagian besar dari kita memilih menafikannya.
Kita tahu tapi kita tidak peduli. Toh kita masih hidup, bisa pesan makanan
online, check out ini itu, semua kemudahan-kemudahan semu.
Silahkan berefleksi
Tulisan diatas adalah hasil zoom meeting yang dinarasikan bersama teman-teman komunitas. Diisi oleh Kak Feby Hendola Kaluara, Co-Founder Sendalu Permaculture.
Komentar
Posting Komentar