Surat Untuk Bumi

Halo Bumi, Apa kabar? Kudengar akhir-akhir ini kau demam. Di umat kami, demam adalah salah satu indikasi tubuh mempertahankan diri dari virus-virus berbahaya. Seperti beberapa tahun belakangan ini, umat manusia mengalami pandemi yang berlangsung cukup lama. Menewaskan lebih dari 6 juta orang atau 2,14% di seluruh dunia.

Bumi, kau telah mengalami lima peristiwa kepunahan massal sebelum yang sedang kita alami sekarang. Namun kau tetap bertahan, terbukti dari usia dirimu yang diperkirakan para ilmuan lebih dari 4 miliar tahun, dan kami hidup kurang dari 0,005% dari usiamu. Di usia yang sangat sedikit itu kami tinggal, kami merasa memiliki kekuatan super; membabat habis hutan-hutanmu, mengeruk isi perutmu, memuntahkan limbah-limbah, plastik, polusi yang kami anggap sebagai sisa-sisa konsumsi kami dengan tidak bertanggung jawab.

Demam yang kau alami sekarang, yang biasa kami sebut sebagai pemanasan global boleh jadi seperti kisah dramatis panjang yang berlangsung berabad-abad dan kini menjadi azab bagi anak cucu adam. Berawal dari pembakaran karbon di Inggris pada abad ke-18-lah yang menyalakan sumbu untuk segala hal yang terjadi sesudahnya.

Para ilmuan sudah paham bagaimana suhu tubuhmu seperti berada di dalam rumah kaca,sudah paham cara karbon yang dihasilkan oleh gaya hidup atau pembakaran batu bara dan minyak, dapat memanaskan planet ini dan membuat kekacauan diatasnya selama tiga seperempat abad. Kita belum melihat dampaknya, belum benar-benar melihat secara nyata. Sebagian besar dari kami berpikir kenaikan 1-2 suhu planet ini sama seperti mereka menaikan 1-2 derajat AC mereka. Untuk mereka yang bercerita mengenai iklim, kemungkinan semenakutkan itu sehingga sedikit sekali pembahasan ini diperbincangkan. Kami memilih tidak membahas dunia yang lebih panas 2 derajat karena kesantunan, rasa takut, atau takut menakut-nakuti, bahkan sampai ragu terhadap kelompok kiri peduli lingkungan seperti saya dulu. Kita merasa bingung dengan angka-angka yang disajikan para ilmuan. Berapa tahun lagi, seberapa banyak karbon, berapa kerugiannya, atau kita juga memiliki intuisi bahwa orang lain pun bingung dengan sains yang disajikan. Kita sudah cukup menderita karena lamban memahami percepatan perubahan. Mungkin, karena kita amat mahir mengubah berita buruk menjadi ‘normal’ atau karena melihat keluar dan ternyata segalanya tampak biasa-biasa saja. Kita bosan menulis, atau membaca cerita yang sama berkali-kali, karena iklim bersifat global dan tak terkait kelompok, sehingga tak menarik bagi politik atau ekonomi, karena kita belum mengerti betapa besar dampaknya pada orang yang belum lahir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesona

2. Perkenalan

Hakikat tertinggi dalam cinta adalah menjaga